Tol Cisumdawu Retak, Penerapan Contraflow Selama 4 Bulan

Tol Cisumdawu Retak, Penerapan Contraflow Selama 4 Bulan

Jalan Tol Cisumdawu mengalami keretakan, sehingga pihak kepolisian memutuskan untuk memberlakukan contraflow selama empat bulan ke depan. Retakan yang terdeteksi berada pada KM 207 A dalam arah Bandung menuju Cirebon, dengan panjang sekitar 80 meter dan kedalaman 2 meter. Keputusan untuk menerapkan contraflow ini tidak hanya karena keretakan, tetapi juga untuk memperlancar proses perbaikan yang diperlukan.

Pemberlakuan Contraflow dan Penanganan

Iptu Deni Ruchyat, kanit 3 PJR Tol Cisumdawu, menjelaskan bahwa estimasi waktu perbaikan diperkirakan berlangsung antara tiga hingga empat bulan, tergantung pada kemajuan pengerjaan. Contraflow yang diberlakukan akan berlangsung sepanjang 2,2 kilometer, dimulai dari KM 206+125 hingga KM 208+200. Selama masa ini, pengawasan akan dilakukan secara intensif selama 24 jam dari awal hingga akhir area contraflow.

Deni mengingatkan kepada pengguna jalan tol untuk selalu menaati rambu-rambu lalu lintas dan mengurangi kecepatan, terutama saat cuaca mendung atau hujan. “Kecepatan maksimal yang disarankan selama hujan adalah 40-50 kilometer per jam, mengingat beberapa titik berpotensi berkabut di sore hari,” ujarnya.

Detail Retakan dan Rencana Perbaikan

Dari informasi yang diperoleh, retakan pada Tol Cisumdawu terjadi di KM 207 A arah Bandung menuju Cirebon. Meskipun demikian, kondisi jalan di sekitar retakan masih dinyatakan aman untuk dilalui. Agustinus Sudrajat, Direktur Utama PT Citra Karya Jabar Tol (PT CKJT), menyebutkan bahwa saat ini pengalihan arus kendaraan sedang diberlakukan. Kendaraan dari Bandung menuju Cirebon dialihkan untuk keluar di Gerbang Tol Paseh, sementara contraflow akan diterapkan di Jalur B dari KM 206+125 sampai KM 208+200.

Penanganan jangka pendek mencakup pemasangan rambu peringatan, pengurangan kecepatan, serta pengisian retakan menggunakan material aspal yang ditutup dengan terpal untuk mencegah air masuk. Sementara itu, untuk perbaikan jangka panjang, PT CKJT berencana melaksanakan pengukuran topografi, penyelidikan tanah, analisa geoteknik, dan penggunaan bore pile dengan kedalaman sekitar 30 meter. Semua tindakan yang diambil akan sesuai dengan standar teknis serta prosedur keselamatan yang berlaku.

Agustinus juga mengungkapkan bahwa penyebab utama keretakan ini diduga akibat hujan dengan intensitas tinggi serta potensi masalah pada sistem drainase. Pemantauan lapangan akan dilakukan secara berkala untuk memastikan struktur jalan tetap dalam kondisi baik, terutama selama musim hujan yang berpotensi menyebabkan kerusakan lebih lanjut. Upaya koordinasi dengan berbagai pihak juga terus dilakukan guna menjamin keamanan dan keandalan jalan tol ini di masa mendatang.

Sumber: www.cnnindonesia.com