Nilai tukar rupiah pada akhir pekan ini mencatatkan pelemahan, berada di angka Rp17.104 per dolar AS pada Jumat (10/4) sore. Penurunan sebesar 14 poin atau 0,08 persen dari perdagangan sebelumnya ini dipengaruhi oleh sentimen negatif yang menghantui pasar keuangan domestik.
Pergerakan Mata Uang di Asia dan Global
Kurs referensi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), menunjukkan posisi rupiah di Rp17.112 per dolar AS. Dalam pergerakan mata uang di kawasan Asia, sebagian besar mengalami penurunan, termasuk yen Jepang yang melemah sebesar 0,23 persen, baht Thailand yang turun 0,52 persen, dan yuan China yang menyusut 0,02 persen. Peso Filipina dan won Korea Selatan pun masing-masing melemah 0,50 persen dan 0,75 persen.
Kondisi Mata Uang Utama
Selain itu, dolar Singapura juga mengalami penurunan sebesar 0,17 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong mencatatkan sedikit penguatan sebesar 0,01 persen pada penutupan perdagangan sore ini. Di sisi lain, mata uang utama negara maju menunjukkan tren serupa, dengan euro Eropa yang melemah sebesar 0,09 persen, poundsterling Inggris yang turun 0,11 persen, sedangkan franc Swiss justru menguat 0,05 persen. Dolar Australia melemah 0,32 persen dan dolar Kanada turut menurun sebanyak 0,17 persen.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa sentimen negatif domestik menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pelemahan rupiah. "Para investor kembali khawatir terhadap data fundamental Indonesia yang cenderung lemah, seperti cadangan devisa, perdagangan, defisit anggaran, serta proyeksi pertumbuhan ekonomi yang direvisi turun oleh bank dunia. Informasi terbaru juga menunjukkan adanya penurunan dalam kepercayaan konsumen dan penjualan mobil," ungkap Lukman kepada CNNIndonesia.com.