Sejumlah warga Iran mengungkapkan penyesalan mereka setelah mendukung serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap negara mereka. Dukungan tersebut bertujuan untuk menggulingkan rezim saat ini yang dipimpin oleh Republik Islam Iran. Gelombang protes besar-besaran terhadap pemerintahan Iran mencapai puncaknya pada Januari lalu, di mana Presiden AS, Donald Trump, memberikan harapan kepada pengunjuk rasa bahwa bantuan akan segera tiba. Konflik antara AS-Israel dan Iran mulai meletus pada 28 Februari, dengan Trump menjelaskan bahwa tujuan dari perang ini adalah untuk menumbangkan pemerintahan Iran, meskipun rezim yang dipimpin Mojtaba Khamenei tetap bertahan.
Kehidupan Warga Terdampak Perang
Hancurnya infrastrukutur akibat perang ini dirasakan tidak hanya oleh pendukung rezim, namun juga oleh mereka yang dulu berpihak pada AS-Israel. Beberapa di antara mereka kini merasa menyesal atas pilihan yang telah diambil. Leila, seorang warga berusia 25 tahun yang namanya disamarkan untuk menjaga keselamatannya, mengungkapkan kebingungannya. Ia awalnya berharap bahwa intervensi asing bisa mengakhiri rezim yang berkuasa, namun justru melihat banyak fasilitas penting hancur akibat serangan. "Mengapa mereka menyerang jembatan? Mengapa menghancurkan jalur kereta api?" tanyanya dengan kesal.
Penyesalan dan Kehancuran
Ali, seorang pria berusia 29 tahun, mencurahkan isi hatinya terkait harapannya akan perubahan melalui kekerasan. Ia terpaksa mengubah pandangannya setelah mengetahui bahwa tidak hanya demonstran, tapi juga warga sipil yang tidak bersalah, menjadi korban. Pemerintah Iran menyatakan 3.117 orang tewas, sementara laporan dari Human Rights Activists News Agency memperkirakan jumlah tersebut mencapai 7.015. Ali menyatakan, "Kami berpikir serangan akan terarah, tetapi ternyata semuanya hancur." Kehilangan rumah dan tempat tinggal membuatnya berjuang untuk melanjutkan hidup.
Pentingnya Kesadaran di Tengah Perang
Tidak semua orang Iran yang menentang pemerintah saat ini ingin melihat perang terjadi. Mereka memahami bahwa kehancuran yang diakibatkan hanya akan memperburuk keadaan, membuat upaya pemulihan semakin sulit. Maryam, seorang wanita berusia 47 tahun, mengatakan, "Hanya orang yang tulus bisa meyakini bahwa perang ini akan membawa kebebasan." Ia mengingatkan contoh negara lain yang mengalami kehancuran akibat perang, seperti Gaza dan Suriah.
Harapan yang Patah
Anjloknya infrastruktur di Iran akibat serangan selama dua bulan terakhir menyisakan banyak pertanyaan dan kesedihan. Maryam mengecam warga yang mendukung perang dan menegaskan bahwa harapan mendapatkan kebebasan melalui kekerasan tidak akan terwujud. "Mereka tidak menyadari dampak dari perang ini," ujarnya. Abbas, seorang pria berusia 54 tahun, menambahkan bahwa serangan ini juga meruntuhkan karier politik Reza Pahlavi. Di mata Abbas, Pahlavi tidak bisa dianggap sebagai pemimpin yang baik, mengingat ketidakpeduliannya terhadap penderitaan rakyat yang diakibatkan oleh serangan tersebut.
Dalam situasi yang tidak pasti ini, Niloufar, seorang warga Teheran berusia 34 tahun, meragukan adanya gencatan senjata dan merasa putus asa dengan keadaan yang ada. Di dalam rumahnya, suara pesawat dan ledakan masih menggema, menciptakan suasana mencekam yang tak kunjung reda.