Pahami 10 Aturan Etika untuk Turis Asing yang Berkunjung ke Jepang

Pahami 10 Aturan Etika untuk Turis Asing yang Berkunjung ke Jepang
```html

Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi siapa saja yang berencana mengunjungi Jepang, penting untuk memahami sejumlah kebiasaan dan etika yang menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat. Agar tidak merasa kebingungan atau shock budaya saat berada di sana, turis asing dianjurkan untuk mempelajari beberapa etiket sehari-hari yang berlaku. Seorang jurnalis Jepang, Mizuki Uchiyama, telah berbagi berbagai kebiasaan yang sebaiknya diperhatikan oleh pelancong. Di negara yang dikenal dengan sebutan Negeri Sakura ini, terdapat banyak aturan tidak tertulis yang jika dilanggar dapat membuat orang sekitar memberikan tatapan aneh. Berikut adalah sepuluh poin penting yang diungkapkan oleh Mizuki Uchiyama untuk membantu turis menghargai budaya Jepang.

Cara Menggunakan Alat Makan

Jepang dikenal dengan penggunaan sumpit sebagai alat makan. Bagi beberapa orang, terutama yang berasal dari Indonesia yang lebih sering menggunakan sendok dan garpu, mungkin akan kesulitan dengan sumpit. Ada beberapa aturan yang perlu diperhatikan dalam menggunakan sumpit di Jepang:

  • Jangan menancapkan sumpit di nasi.
  • Jangan memindahkan makanan dari satu sumpit ke sumpit yang lain, karena ini dianggap tidak sopan dan berkaitan dengan ritual pemakaman.
  • Ketika tidak digunakan, sumpit sebaiknya diletakkan di sandaran atau di atas mangkuk.

Selain itu, ada baiknya untuk mengangkat mangkuk saat makan dan tidak terlalu membungkuk saat menyantap makanan.

Menyeruput Makanan

Bagi yang tidak sabar menikmati ramen dan mie khas Jepang, kabar baiknya, menyeruput mie adalah hal yang diperbolehkan. Kebiasaan ini sudah ada sejak zaman Edo dan dianggap akan membuat rasa mie lebih enak, karena kuah dan mienya dapat tercampur dengan baik. Disarankan juga untuk menyeruput mie agar tidak terlalu panas saat masuk ke mulut.

Kamus untuk Restoran

Meskipun tidak perlu fasih berbahasa Jepang, ada beberapa kata penting yang sebaiknya dikuasai saat mengunjungi restoran, seperti:

  • Sumimasen (permisi) - saat memanggil pelayan.
  • Onegaishimasu (mohon bantuannya) - saat memesan makanan.
  • Itadakimasu (selamat makan) - sebelum mulai menyantap hidangan.
  • Gochisousama (terima kasih atas makannya) - setelah selesai makan.

Tip Tidak Diperlukan

Berbeda dengan Indonesia, memberikan uang tip di Jepang tidak dianjurkan. Pelayanan yang baik sudah menjadi bagian dari pekerjaan, sehingga memberikan tip dapat membuat pelayan merasa bingung. Menunjukkan rasa terima kasih dapat dilakukan dengan cara menghabiskan makanan yang dipesan.

Sapaan yang Tidak Perlu Dijawab

Ketika memasuki toko di Jepang, pengunjung sering disambut dengan seruan "irasshaimase" yang berarti "selamat datang". Tidak perlu menjawab sapaan ini, cukup anggukkan kepala dan tersenyum sebagai bentuk penghargaan.

Jangan Bicara Terlalu Keras

Berkeliling Jepang dengan transportasi umum adalah pengalaman yang menyenangkan. Namun, penting untuk menjaga suasana tetap tenang. Di dalam transportasi umum, sebaiknya tidak berbicara keras, menerima telepon, atau membiarkan nada dering ponsel aktif. Jika perlu menjawab telepon, tunggu hingga mencapai halte berikutnya dan turun untuk berbicara.

Jangan Makan di Transportasi Umum

Selama perjalanan dengan transportasi umum, jangan makan atau minum, karena hal ini tidak disukai. Namun, aturan ini tidak berlaku untuk kereta jarak jauh seperti Shinkansen, di mana banyak penumpang yang menikmati bento selama perjalanan. Jika ingin makan, carilah tempat yang sesuai, seperti dekat restoran atau tempat umum lainnya.

Menjaga Kebersihan

Kebersihan adalah bagian penting dari identitas Jepang. Oleh karena itu, turis diharapkan untuk menjaga kebersihan. Meskipun tempat sampah sulit ditemukan, biasanya tersedia di toko, stasiun kereta, atau dekat mesin penjual otomatis. Jika tidak ada tempat sampah, sebaiknya bawa sampah hingga menemukan tempat yang tepat untuk membuangnya.

```

Sumber: www.cnnindonesia.com