Dalam sebuah perkembangan yang memanas di kawasan Timur Tengah, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan kesiapannya untuk mengadakan pembicaraan langsung dengan Lebanon, hanya sehari setelah serangan udara Israel yang mematikan mengakibatkan lebih dari 300 orang tewas. Meski demikian, pada hari Jumat (10 April), militer Israel kembali melancarkan bombardir udara ke berbagai kota di Lebanon.
Serangan Berlanjut di Lebanon
Menurut laporan dari Aljazeera, serangan yang dilancarkan oleh jet-jet tempur Israel menargetkan daerah-daerah di selatan Lebanon, termasuk kota al-Majadel yang terletak di distrik Tyre, serta beberapa lokasi lain seperti Haneen dan Sarafand. Sementara itu, milisi Hizbullah dilaporkan telah membalas serangan tersebut dengan menembakkan roket ke wilayah utara Israel, termasuk Galilee, Ashdod, dan Haifa. Balasan ini terjadi di tengah upaya gencatan senjata yang disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, yang merupakan sekutu Hizbullah.
Pernyataan Netanyahu dan Konteks Gencatan Senjata
Netanyahu menyatakan dalam pernyataannya bahwa ia telah mengarahkan kabinetnya untuk segera memulai dialog dengan Lebanon yang akan difokuskan pada pelucutan senjata Hizbullah dan pembentukan hubungan damai antara kedua negara. Pernyataan ini dilontarkan menyusul serangan besar Israel yang mengakibatkan lebih dari 300 korban jiwa, yang juga berpotensi merusak kesepakatan gencatan senjata yang direncanakan antara AS dan Iran.
Kondisi di Lebanon dan Langkah Diplomatik
Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa mereka sedang melakukan pendekatan diplomatik yang memperoleh respons positif dari komunitas internasional. Pemerintah Lebanon juga telah memutuskan untuk memperketat kontrol senjata di Beirut dan memastikan bahwa kepemilikan senjata hanya berada di tangan institusi negara sebagai langkah untuk memperkuat otoritas negara. Dalam sesi rapat kabinet, Perdana Menteri Nawaf Salam menekankan pentingnya monopoli senjata di wilayah tersebut.
Aoun menambahkan bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung ialah melalui gencatan senjata, dan mengingatkan bahwa tanpa kepercayaan terhadap negara dan kekuatan sahnya, tidak akan ada jaminan keamanan.