Kehidupan jutaan orang di Timur Tengah dan kestabilan ekonomi global diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh hasil dari perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini di Pakistan. Ibu kota Islamabad telah disiapkan dengan pengamanan ketat, menyebabkan jalan-jalan dikosongkan selama dua hari, yaitu pada Jumat (10/4) dan Sabtu (11/4), untuk menyambut kedatangan delegasi dari kedua negara.
Persiapan Konferensi dan Delegasi
Pembicaraan antara Iran dan AS direncanakan dimulai pada Sabtu pagi waktu setempat. Delegasi AS akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta menantu mantan Presiden Trump, Jared Kushner. Sementara itu, meskipun Teheran belum mengumumkan secara resmi susunan delegasinya, laporan dari media lokal menyebutkan bahwa Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf akan memimpin pihak Iran. Ghalibaf dikenal sebagai sosok yang mampu menengahi perbedaan pendapat di dalam rezim dan pernah berperan sebagai juru bicara penting pemerintahan Trump selama ketegangan militer.
Diskusi dan Tuntutan Kedua Pihak
Kedua negara diperkirakan akan menghadapi kesulitan untuk mencapai persetujuan mengenai poin-poin gencatan senjata. Dalam pernyataannya, Trump mengacu pada "proposal 10 poin dari Iran" sebagai kerangka awal untuk negosiasi. Namun, Iran juga mulai mengedarkan daftar 10 poin yang memuat tuntutan yang mengemuka, termasuk pengakuan atas kontrolnya di Selat Hormuz, ganti rugi akibat kerusakan perang, dan pencabutan semua sanksi, yang diperkirakan tidak akan disetujui oleh AS. Versi informasi dari media pemerintah Iran juga mencantumkan pengakuan hak Iran untuk melakukan pengayaan nuklir.
Sementara itu, tim Trump menyusun proposal mereka yang terdiri dari 15 poin, yang, meskipun belum sepenuhnya diungkapkan, diperkirakan mencakup komitmen bagi Iran untuk tidak memiliki senjata nuklir, menyerahkan uranium yang diperkaya, serta pembatasan terhadap kemampuan pertahanan negara tersebut dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Meskipun begitu, pejabat AS menegaskan bahwa mereka tidak akan terburu-buru dalam persiapan negosiasi ini. "Jika Iran memutuskan untuk menarik diri, itu akan menjadi keputusan yang keliru, namun itu adalah pilihan mereka," ujar Wapres Vance.
Optimisme dan Perbedaan Pandangan
Trump sendiri menyatakan rasa optimisnya terhadap potensi kesepakatan perdamaian yang bisa terwujud di Islamabad, menilai bahwa para pemimpin Iran sudah menunjukkan sikap terbuka untuk menyepakati perdamaian. "Mereka lebih masuk akal. Mereka sudah menyetujui prinsip-prinsip yang harus mereka terima. Ingat, mereka telah kalah. Mereka tidak memiliki militer yang kuat," ujar Trump dalam wawancara dengan media.
Namun, perspektif pemerintah Iran berbeda, dengan mereka mengumumkan telah meraih "kemenangan gemilang" dengan mampu bertahan dari serangan AS dan Israel, serta membawa Washington untuk kembali ke meja perundingan.