Asosiasi Memaparkan Pengaruh Perang Iran terhadap Material Serat Optik

Asosiasi Memaparkan Pengaruh Perang Iran terhadap Material Serat Optik

Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi Indonesia (APJATEL) mengungkapkan bahwa konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) serta Israel mempengaruhi tidak hanya krisis energi, tetapi juga harga material fiber optik yang merupakan komponen penting untuk koneksi broadband tetap. Hal ini menimbulkan kebutuhan mendesak bagi pemerintah dan industri untuk bersinergi demi memperkuat infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Dampak Perang terhadap Harga Fiber Optik

Ketua Umum APJATEL, Jerry Mangasas Swandy, dalam acara diskusi di Jakarta pada hari Kamis, 9 April, menyatakan bahwa harga material fiber optik mengalami kenaikan sekitar 15-17 persen secara nasional. Kenaikan ini disebabkan oleh kelangkaan bahan baku seperti corning serta meningkatnya harga aksesori lainnya. Jerry menyebutkan bahwa isu ini harus ditangani melalui kerja sama lintas sektor untuk memperkuat industri telekomunikasi dalam negeri.

Peran Infrastruktur Telekomunikasi

Jerry menambahkan bahwa infrastruktur telekomunikasi harus dipandang sebagai bagian vital dari negara, yang berfungsi sebagai pendukung utama bagi transformasi digital Indonesia. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan sektor industri untuk memastikan pengelolaan infrastruktur telekomunikasi tidak hanya efisien tetapi juga berorientasi pada kepentingan publik dan kedaulatan nasional.

Tantangan Pembangunan dan Solusi OVC

APJATEL mengidentifikasi berbagai tantangan dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi, termasuk biaya regulasi yang tinggi, duplikasi jaringan, serta kesenjangan digital di antara wilayah perkotaan dan daerah 3T. Untuk mengatasi hal ini, APJATEL mendukung pembentukan Operating Vehicle Company (OVC), yang merupakan entitas netral yang mengelola infrastruktur telekomunikasi pasif secara kolektif. OVC diharapkan dapat mengurangi biaya investasi dan mempercepat perluasan jaringan di seluruh Indonesia, mencapai efisiensi biaya antara 40-60 persen.

Target Penetrasi dan Kecepatan Broadband

Direktur Akselerasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Mulyadi, mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, jaringan fiber optik diperkirakan telah menjangkau 72,12 persen di tingkat kecamatan, dengan target meningkat menjadi 90 persen pada tahun 2029. Sementara itu, penetrasi broadband tetap di rumah tangga saat ini berada di angka 20,83 persen, dengan target 50 persen pada tahun 2029. Mulyadi juga menyampaikan target peningkatan kecepatan broadband, dari 32,1 Mbps pada 2025 menjadi 100 Mbps pada 2029.

Rasio Harga Layanan

Selain faktor-faktor tersebut, Mulyadi menekankan pentingnya rasio harga layanan fixed broadband. Saat ini, rata-rata rasio harga layanan mencapai 4,5 persen, dengan rencana untuk menurunkannya menjadi 2,5 persen pada tahun 2029. beberapa kota seperti Jakarta dan Surabaya sudah menunjukkan rasio harga layanan yang baik, masing-masing sebesar 1,08 persen dan 1,16 persen.

Sumber: www.cnnindonesia.com